Cerita Horor Seram Mistis Misteri Suara Tangisan Hantu Dari Dalam Kuburan

Cerita Mistis Kisah Misteri Seram Horor Suara Tangisan Hantu Dari Dalam Kuburan

Cerita Mistis kisah seram dan menakutkan kali ini akan berbagi cerita hantu seram misteri suara tangisan yang terdengar keluar dari dalam kubur.Cerita nyata horor terbaru ini makin memperbanyak koleksi kumpulan cerita horor atau novel horor di blog kesayangan narasi.net. jangan bosan ya berkunjung kemari ya.....


Cerita Kisah Misteri Suara Tangisan Dari Dalam Kubur

kisah nyata cerita seram horor hantu pocong cerpen dongeng asli ketemu kumpulan

Cerpen horor.Tiba tiba wajah dukun perempuan tua itu tampak pucat pasi, Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya yang menggigil hebat. Selama hampir 40 tahun menjadi dukun beranak, Mak Ijah baru kali ini melihat bayi yang berwujud aneh dan mengerikan. Jabang bayi berjenis kelamin laki-laki yang keluar dari kandungan Lastri itu sungguh menyeramkan.

Dia sudah ditumbuhi gigi layaknya orang dewasa. Selain itu, bola matanya melesak seakan keluar dan tidak memiliki kelopak. Sementara kepalanya sangat besar, sangat kontras dengan tubuh si bayi yang kecil mungil.

“Astaghfirullah!” sang paraji mengucapkan Istighfar sambil ke luar dan bilik meninggalkan jabang bayi, juga Lastri yang pingsan.

Warta, suami Lastri, yang sejak tadi geIisah menantikan kelahiran anak pertamanya, kaget melihat Mak Ijah ke luar dengan wajah pucat dan kelihatan masih tegang.

“Ada apa, Mak?” tanya lelaki 25-an tahun itu.

“Lihatlah anak dan isterimu!” jawab Mak Ijah dengan suara agak terbata.

Warta bergegas ke kamar, disusul Sumiyati, adiknya. Di atas ranjang mereka melihat Lastri tergolek tak berdaya. Sementara, si jabang bayi yang baru lahir tergolek Iemah di antara selangkangan Lastri, namun anehnya tanpa ari ari.Warta segera memeluk tubuh Lastri.Ia berusaha membangunkan dengan memanggil nama isterinya.

“Lastri bangun...bangun!” teriakWarta sambil mengangkat kepala isterinya dan mendekapnya ke dada. Namun yang dipanggil tetap saja tidak menyahut.

Warta mulai dilanda kepanikan, sementara Sumiyati yang sejak tadi berdiri di sudut kamar melihat adegan yang memilukan hati itu mulai sadar dengan apa yang telah terjadi. Dia berusaha menyadarkan kakaknya.

“Sudahlah, Mas! Istighfar, relakan kepergian Mbak Lastri,” katanya dengan air mata jatuh menitik.

Namun seketika itu juga, betapa takutnya Sumiyati demi melihat keadaan bayi yang baru saja terlahir dari kandungan Lastri. Begitu takut dan tak percaya, nyaris saja dia terpekik. Seperti juga Mak ljah, tubuhnya langsung bergetar hebat.

Sebelum ketakutannya memuncak dan kesadarannya hilang, Sumiyati segera keluar kamar, seakan tak perduli lagi pada Warta yang masih menangisi kepergian isterinya. Mak Ijah yang sudah mulai sadar dengan situasi menegangkan itu, segera merangkul Sumiyati dan berusaha menenangkannya.

“Sudah-sudah,jangan takut, Ayo kita Iihat Mas dan Mbakyumu,” ajak wanita berambut putih itu dengan suara Iirih sembari menuntun Sumiyati kembali ke dalam kamar. Mereka menghampiri Warta yang masih memeluk tubuh Lastri. Dengan sangat hati-hati Mak Ijah melepaskan Lastri dan pelukan Warta. Kesedihan pun serasa begitu sempurna ketika Warta menatap dalam pelukan Sumiyati, menangisi kepergian isterinya. Namun, Lastri membisu untuk selamanya. Dia telah meninggal, begitu juga dengan sang orok yang sejak ke luar dari perut ibunya tanpa suara tangis itu ternyata juga meninggal.

Berita meninggalnya Lastri dan bayinya hanya dalam sekejap menyebar ke seluruh pelosok Desa Cilebut. Apalagi sang bayi diketahui lahir dengan wajah menyeramkan.

Para tetangga datang silih-berganti melayat untuk menyatakan rasa ikut belasungkawa atas meninggalnya Lastri dan bayinya. Tetapi sebagian di antara pelayat merasa penasaran dengan mayat bayi aneh yang dilahirkan Lastri. Hal itu kemudian menjadi bahan pergunjingan di antara warga kampung.

Mentari mulai condong ke barat, jam menunjukkan pukul tiga sore. Usai dishalatkan, jenazah Lastri dan bayinya kemudian dimakamkan. Entah dengan alasan apa, dan entah siapa yang berinisiatif, jasad ibu dan bayi merah itu dikuburkan di dalam lobang yang sama. Hal inilah yang kelak di belakang hari menimbulkan ketegangan diDesa Ciebut.

Prosesi pemakaman berlangsung dalam suasana mengharukan. Selesai pemakaman, para pelayat kembali ke rumah masing-masing. Mereka tak menaruh curiga sedikitpun dengan apa yang akan terjadi nanti.

Sejak prosesi pemakaman itu, kisah aneh Lastri dan bayinya menjadi obrolan sehari-hari orang sekampung. Semakin lama, kisah itu bertambah seram dengan kesaksian beberapa warga yang mengaku pernah mendengan suara isak tangis dan rintihan dari seorang perempuan,juga tangisan anak kecil yang terdengar di keheningan malam. Suara itu berasal dari pemakaman umum Desa Cilebut. Seorang saksi mengaku mendengar samar-samar suara seseorang minta dikeluarkan dari kubur karena sempit dan kepanasan.


Kisah cerita mistis misteri Suara tangisan hantu dari dalam kubur yang menakutkan


Cerita mistis itu akhirnya menyebar ke seluruh pelosok desa. Akibatnya, jika karyawan atau pedagang yang pulang sudah larut malam merasa ketakutan bila lewat jembatan sungai Cilebut yang terletak bersebelahan dengan tempat pemakaman umum (TPU) Desa Cilebut. Warga Iebih memilih Iewat jalan alternatif lain meski harus mengeluankan uang membayr ongkos ojek. Padahal kalau lewat jembatan sungai Cilebut, warga tidak perlu merogoh saku untuk membayar angkutan bermotor roda dua itu.

Cerita tak sedap itu akhirnya mampir juga ke telinga Warta. la pun merasa sangat terganggu karenanya. Akibat cerita miring itu, makan pria ini jadi tak nikmat dan tidurnya tak lagi pulas. Apa benar isterinya mati penasaran seperti yang selalu dipergunjingkan itu...?

Untuk membuktikan suara-suara misterius itu, Warta coba membuktikannya dengan nongkrong setiap malam di dekat lokasi pemakaman. Tapi selama hampir satu bulan dirinya melakukan pekerjaan melelahkan ini, tak sekalipun pernah mendengar suara-suara seperti yang dikatakan orang sekampung itu.

Karena masih penasaran dengan gosip seputar suara perempuan misterius dan makam, Warta memutuskan pergi ke salah satu Desa di Pandeglang Banten. Atas saran temannya, di sana Warta menemui seorang penasihat spiritual bernama Pak Syarif. Dia berkonsultasi tentang fenomena suara-suara misterius yang didengar penduduk kampung, sekaligus juga tentang anaknya yang lahir dengan bentuk aneh.

Menurut Pak Syarif, memakamkan ibu dengan anak dalam satu lubang tidak boleh, kecuali sang jabang bayi belum keluar dari rahim ibunya. Atas saran Pak Syarif, Warto disuruh menggali kembali makam isterinya. Kemudian makam bayinya diperintahkan untuk dikubur terpisah dari ibunya.

Soal bayinya yang lahir dalam kondisi aneh, akhirnya terungkap bahwa semasa bujangan hingga menikah Warta mempunyai perangai buruk. Sering mengumbar ucapan yang tidak senonoh. Salah satunya sering mencaci teman yang memiliki bibir cacat dengan kata kata tak pantas.

“Urus itu bibirmu biar gigimu nggak nongol!”

“Matamujereng, matamu belo!”

Celaan seperti itu biasa meluncur dari mulut Warta. Bahkan tak jarang Warta memaki dengan menyebut alat kelamin perempuan atau laki laki.

Kalau kamu nanti menikah lagi dan tidak ingin anakmu lahir cacat, ubah semua sifat burukmu itu, Warta!” Begitu nasihat pak Syarif suatu hari. Warta hanya bisa tertunduk lesu mendengarkan petuah orang tua berusia kurang lebih 70 tahun ini.

Kembali dari Pandeglang, Warta terlihat duduk tafakur di ruang tamu rumahnya, merenungi nasihat Pak Syarif. Sebagai pemeluk agama Islam, Warta memang tidak pernah melaksanan kewajiban shalat.Jangankan sehari sholat lima waktu, shalat jum’at pun yang hanya seminggu sekali Warta enggan menunaikannya.

Namun entah mengapa, sore itu Warta tergerak hatinya hendak melaksanakan shalat Magrib di mushala dekat rumahnya. Kehadiran dirinya di rumah ibadah itu menjadi pemandangan baru bagi para jemaah mushala. Warta sadar telah menjadi pusat perhatian, tetapi dia pura-pura tidak tahu. Niat di dalam hatinya sudah mantap untuk meninggalkan perbuatan buruknya.

Setelah shalat mushola berangsur angsur sepi. Imam mushala, Ustadz Zakaria masih tenlihat khusyuk bertafakur. Warta memutuskan untuk mendekatinya. Setelah mengucap salam, dia mencium tangan dan duduk di dekat Ustadz Zakaria.

“Syukurlah kamu sudah mau datang ke mushala. Aku senang melihatnya,” puji Ustadz Zakaria.

“Terima kasih sebelumnya, Pak Ustadz. Terus terang, selain ingin belajan agama saya juga mau bertanya pada Bapak,”jawab Warta.

“Silakan tanyakan, jangan sungkan sungkan, Nak Warta!” pinta Ustadz Zakaria.

“Begini, Pak Ustadz. Mungkin Pak Ustadz juga telah mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh warga di sini soal suara tangis anak dan isteri saya dari dalam kuburnya itu,” tutur Warta.

Menanggapi keluhan ini, Ustadz Zakaria meminta Warta untuk tidak mempedulikan gosip tersebut. “ Nanti mereka juga bosan!” tegasnya dengan suara berwibawa.

“Tapi lama-lama saya tidak tahan. Sampal akhirnya saya bertemu dengan Pak Syarif, orang pintar dari Pandeglang,” jelas Warto dengan nada bergetar.

Setelah menarik nafas dalam-dalam, Warta menceritakan apa yang disarankan oleh Pak Syarif kepadanya untuk memisahkan kuburan isteri dan anaknya. Ustad Zakaria sambil mengelus elus jenggotnya yang tidak begitu panjang mendengarkan uraian Warta. Sesekali dia tampak mengangguk-anggukan kepalanya.cerita misteri bahasa inggris

“Jadi apa yang mesti saya lakukan dengan saran Pak Syarif itu, Pak Ustadz?” tanya Warta berharap pendapat.

“Tidak ada salahnya kita mendengarkan ucapan orang tua. Ya sudah kalau begitu sekarang kita ke pak RT dan RW untuk membicarakan apakah mereka setuju dengan saran tersebut,” jawab Pak Ustadz.

Demi ketenangan warga setempat setelah melalui beberapa pertimbangan keesokan harinya disaksikan warga, tokoh masyarakat dan ulama, kuburan Lastri akhirnya digali kembali. Jabang bayi yang belum diberi nama itu nyaris tak berbentuk karena telah dimakan hewan tanah. Tulang belulangnya kemudian dimakamkan kembali persis di sebelah makam Lastri.

Sejak itu warga tidak lagi mendengar suara tangis dan rintihan memilukan dari kuburan Lastri.

Hikmah dari peristiwa ini, Warta menjadi sadar bahwa betapa mahal harga yang harus dibayar atas ulahnya yang suka mencerca orang. Dia kini benar-benar insyaf. Selain tekun shalat, dia juga menjadi pedagang buah yang tekun. Kabar terakhir, Warta telah menikah untuk kedua kali dengan Wati, gadis tetangga desanya dan diberi momongan seorang anak peremuan cantik.cerita ini adalah fiksi
Jangan lewatkan Cerita kisah mistis nyata terbaru horor seram dan menakutkan berikutnya yaitu Cerita misteri Hantu Gentayangan
Sekian cerpen horor cerita seram novel hantu Misteri Tangisan Dari Dalam Kubur