Cerita Mistis Misteri Akibat Berhubungan Seks Dengan Nenek Lampir

Cerita mistis misteri Akibat Melakukan Ritual Hubungan Badan Dengan Nenek Nenek Lampir Misterius

Cerpen horor seram kali ini akan berbagi Kisah Cerita misteri horor akibat menimba atau berguru ilmu hitam.Melakukan ritual aneh yaitu berhubungan seks atau badan dengan hantu atau makhluk gaib ,siluman janda dan nenek nenek.Sungguh nista sekali.seperti apa ceritanya kita simak.

Ritual Ilmu Hitam Aneh Berhubungan Intim Dengan Nenek Nenek

kisah nyata cerita seram horor hantu berhubungan seks intim badan dengan setan hantu makhluk gaib siluman

Benar juga apa yang dikatakan Pak Sarwo, bahwa jenis ilmubatin itu tak terhitung jumlahrnya. Penggunaannya juga bermacam-macam. Ada yang untuk kanuragan, pengasihan, penglarisan, kekebalan, dan lain sebagainya. Masing-masing kelompok itu juga memiliki beberapa jenis dan kelas. Kekebalan misalnya, ada yang untuk kebal senjata tajam, kebal tembakan, dan juga ada yang kebal terhadap benda benda tumpul. Pendek kata, jika ingin memiliki kelebihan ‘apapun bisa dicari lewat orang pintar.

Begitu juga cara lelaku untuk mendapatkan ilmu-ilmu itu amat bervariasi. Dari puasa ngebleng (sehari semalam tanpa makan apapun), puasa Pendem (tubuhnya dikubur hidup-hidup), puasa Kalong (menggantung seperti layaknya seekor kalong menggantung di pohon), puasa Patigeni mutih, dan beberapa jenis puasa yang lain. Ada pula syarat tambahan. Misalnya, makan Jenang abang, Bancakan Jenang Pasar, dan lain sebagainya. Aneh-aneh memang.

Tapi lain lagi bagi Mbah Sriteng. Untuk bisa mendapatkan ilmu  yang dikenal amat sakti mandraguna, setiap muridnya harus bisa melakukan berbagai hal yang dinilai amat ganjil. Misalnya saja mencuri gadis dibawah umur yang lahirnya Senin kliwon, atau Jum’at Legi. Tentu saja tidak mudah melaksanakan syarat itu, sebab yang namanya weton (tanggal lahir-pen) seseorang tentu saja tidak diobral sembarangan pada orang lain.

Nasib Kardi memang beruntung sekali, ia mendapat syarat yang lain daripada yang lain. Aneh tapi menyenangkan. Kalau teman-teman lain banyak diberi syarat yang berat-berat, justru Kardi sebaliknya, ringan dan menyenangkan. Pemuda tampan berkulit putih itu disuruh menyetubuhi delapan orang janda yang memiliki tahi lalat dibalik telinganya. Tentu saja itu sebuah syarat yang nyaris tidak masuk di akal, namun Kardi mengakui, itu adalah syarat yang paling menyenangkan.

Sudah dapat ilmu pesugihan, masih bisa menikmati delapan janda. Bayangkan! Memang mujur sekali nasibnya akhir-akhir ini. Apalagi di kampungnya banyak sekali janda-janda muda. Maklum, orang menyebut kampungnya sebagai ‘Abu Dhabi’ akibat begitu mudahnya orang menikah dan bercerai di usia muda. Prinsipnya, untuk mencari delapan janda bukanlah pekerjaan yang sulit bagiku. Tapi untuk menentukan mereka memenuhi syarat bertahi lalat, ini yang membuat Kardi pusing tujuh keliling. Tapi walaupun begitu Kardi tetap optimis bisa melakukannya.

Dalam waktu relatif singkat Kardi sudah bisa menikmati tubuh indah tujuh janda. Tanpa ada bujukan atau paksaan sedikitpun. Ternyata janda-janda itu ho- oh saja ketika diajak main oleh Kardi. Rupanya mereka benar-benar haus akan belaian kasih sayang seorang lelaki.

Makanya, di saat Kardi menawarkan diri, meski dengan malu-malu kucing, toh ahkirnya he-eh juga. Kardi benar-benar bangga mempunyai guru Mbah Sriteng yang suka menghisap rokok klobot itu. Mbah Sriteng hanya terkekeh ketika Kardi melaporkan tentang keberhasilannya. Meskipun masih kurang satu.

“Yang satu nanti harus istimewa,” ujarnya dengan batuk-batuk kecil. Hati Kardi Iangsung meluap berbunga-bunga, begitu mendengar kalimat ‘istimewa’ dari bibirnya yang peot.

‘Sendiko, Mbah,” jawab Kardi langsung menimpali dengan perasaan bangga, seperti seorang prajurit yang mendapatkan tugas dari komandannya. Kardi menunggu kriteria apa lagi yang dmaksud dengan istimewa tersebut.Sedangkan Mbah Sriteng hanya tertawa kecil sambil terus menikmati rokoknya yang sebesar ibu jari orang dewasa.

“Kau harus melayani aku, nanti malam di tengah kuburan!” ujarnya dengan nada tinggi.

Bagai disambar petir Kardi mendengar kalimat serak itu. Pemuda itu seakan tak percaya dengan apa yang baru di dengarnya. Tapi sedapat mungkin ia berpurapura tidak mendengar kalimat itu.

“Aku harus melayani janda dari Desa Simpur, Mbah?” tanya Kardi pura-pura tidak jelas. Mbah Sriteng sontak marah. Matanya melotot menatap Kardi dengan tajam. Hampir saja bola mata nenek itu mencuat keluar, saking tajamnya melotot ke arahnya.

“Goblok! Kamu harus melayani aku nanti malam di tengah kuburan, hi... hi... hi...,” bentaknya keras. Aneh, tiba-tiba saja Mbah Sriteng yang semula ramah, kini berubah sadis dan sangat kasar. Suaranya persis seperti suara Mak Lampir di televisi. Keras dan suka marah marah.

Hati Kardi benar-benar hancur mendengar syarat terakhir itu. Bagaimana ia bisa melakukan hubungan intim dengan nenek yang usianya diatas delapan puluh tahun, apalagi tubuhnya sudah berbau tanah. Apalagi bau badannya, yang tercium hingga mencapai radius lima meter ke belakang. Lha wong mandinya saja hanya setiap tanggal purnama, alias sebulan sekali.

Juga bau mulutnya yang tak pernah dibersihkan. Selain menggemari rokok klobot, Mbah Sriteng juga suka mengunyah sirih. Orang Jawa bilang nyusur. Kardi benar-benar muak dibuatnya. Perut Kardi Iangsung mual membayangkan apa yang akan terjadi. Kardi benar-benar tak sadar, ternyata ia masih berada di hadapan Mbah Sriteng.

“Heh...! Kenapa bingung?” Bentaknya kasar. “Eh-eh, iya Mbah,” jawab Kardi sekenanya.

Begitulah. Tengah malam itu Kardi berangkat sendiri ke perkuburan di ujung desa. Tanpa alas kaki dan lampu senter. Pemuda berambut ikal itu membulatkan tekad untuk berjalan menuju tempat yang dijanjikan. Ternyata Mbah Sriteng sudah menunggu di sana. Wanita yang seluruh rambutnya sudah memutih itu tertawa cekikikan. Ia tampak menikmati benar suasana malam itu. Sebaliknya, Kardi benar-benar muak dengan syarat yang satu itu.

“Kalau begini, jelas aku dikerjai oleh Si Nenek peot itu,” batin Kardi kembali tak percaya dengan apa yang akan dilakukannya. Aneh. Sepertinya Mbah Sriteng tahu apa yang tengah berkecamuk di dalam batinnya. Tiba-tiba matanya malotot tajam pada Kardi.

Sambil berpura-pura tulus, Kardi memeluk wanita ringkih itu. Mbah Sriteng tertawa kecil. Sambil menari-nari seperti Iayaknya anak kecil, Mbah Sriteng terus menikmati rokok klobotnya. Tepat, saat menyemburkan asap rokok yang tebal ke wajahnya, Kandi benar-benar KO dibuatnya. Bau apek, bacin dan anyir berkumpul jadi satu di tengah asap rokok yang tebal itu. Seketika, jantungnya langsung berhenti berdetak. Selebihnya Kardi tak tahu lagi apa yang terjadi di tengah kuburan malam itu.

Tetapi sayup-sayup kardi mendengar suara orang membaca tahlil disekitarnya. Lama-kelamaan suara itu terdengar makin jelas. Satu persatu Kardi melihat jelas, wajah orang-orang yang membaca tahlil tersebut. Ternyata mereka para tetangga dekatnya. Ada Pak Sarwo, Pak Buang, Mbah Karim, dan banyak lagi yang lainnya.

Cerita mistis misteri akibat belajar ilmu hitam dengan syarat yang aneh aneh


“Syukurlah, dia sudah sadar,” kata Pak Sarwo sambil menoleh pada orang yang ada didekatnya. Mulutnya terus komat-kamit membaca do’a.

Tapi, suatu keanehan terjadi pada diri Kardi. Tiba-tiba, seluruh bacaan do’a itu terdengar seperti lelucon di telinganya. Begitu suara itu masuk telinga, yang tendengar oleh Kardi seperti lawakan komedi yang menggelikan.

Maka, dengan sekuat tenaga ia melampiaskan seluruh isi hatinya sambil terus bangkit dari tempat tidur, “Ha... ha... ha..., aku bebas... !“ teriak Kardi sambil lari dengan tubuh telanjang. Orang-orang yang berada di sekeliIingnya, langsung lari berhamburan ke halaman.

Sementara Kardi masih terus menikmati tawanya yang dirasakannya telah bebas. Kardi benar-benar seperti orang gila. Kardi sering tertawa terbahak bahak dan menangis meraung-raung tanpa sebab. Apakah penyakit kurang warasnya Kardi akibat bercinta dengan Nenek Lampir alias Mbah Sriteng? Hanya Kardi-Iah yang tahu.
Sekian cerita mistis misteri mengerikan akibat belajar ilmu hitam dengan ritual berhubungan intim dengan nenek lampir