Cerita Mistis Pendakian Tersesat Di Kerajaan Jin Gunung Merapi

Cerita Kisah Horor Seram Mistis Misteri Naik Gunung Merapi Tersesat ke Alam Gaib Jin

Cerita horor seram nyata terbaru kali ini akan berbagi kisah misteri mistis pendakian gunung merapi,dan tersesat kedalam kerajaan atau kampung jin.Cerita nyata horor ini menambah lagi daftar kumpulan cerita horor dan novel horor di narasi.net  .

Cerita Mistis Misteri Tersesat Di Kerajaan Jin Gunung Merapi Padang

cerita mistis misteri kisah nyata horor terbaru tersesat masuk kedalam kerajaan jin digunung merapi

Cerita mistis  hantu .Aku tak pernah bermimpi kalau petualangan yang kami lakukan dalam rangka memeriahkan HUT RI di tahun 2004 silam akan sampai ke suatu negeri aneh, yang tak pernah ada di Nusantara ini.Sebutlah negeri itu sebagai suatu negeri yang hilang.cerita novel horor

Kisah ini berawal ketika kami, lima orang pemuda yang biasa bekerja sebagai pedagang di kota kecil Padang Panjang, melakukan petualangan mendaki ketinggian puncak Merapi. Kegiatan ini kami Entah mengapa ketika itu muncul ide untuk mendaki Gunung Merapi. Yang pasti, begitu ide ini tercetus dari mututku, keempat kawanku Iangsung menyambutnya dengan antusias. Akhirnya, kamipun sepakat untuk mendaki puncak Merapi, meski sejujurnya kami belum memiliki banyak pengetahuan tentang teknik pendakian, juga medan yang akan kami lalui.

Awalnya, semua berjalan lancar dan tanpa gangguan sedikitpun. Setelah melakukan camping selama dua haru di puncak Gunung Merapi, kami melanjutkan petualangan dengan menyusuri tantangan yang terpampang di hadapan kami. Dengan sedikit kenekadan, kami menuruni lereng Gunung Merapi sebelah selatan dengan melewati rute jalan setapak. Sesekali pula kami harus merambah hutan dan semak.

Karena kenekadan yang di luar rencana kami sebelumnya ini, selama dua hari kami terjebak di dalam lebatnya hutan raya Gunung Merapi. Ya, tanpa arah dan tujuan yang pasti kami terus melangkah. Akhirnya, kami benar-benar tersesat.

Setelah dua hari berjalan tanpa arah yang jelas, tanpa sengaja kami menjumpai empat buah pohon jeruk. Anehnya, pohon jeruk yang tengah berbuah itu sepertinya sengaja ditanam oleh seseorang ini terbukti dengan keadaan pohon yang berjejer rapi dan tampak sangat terawat.

Karena sudah kekurangan bekal, tanpa berpikir panjag lagi kami berlima memetik jeruk-jeruk yang memang sedang lebat berbuah itu dengan penuh gairah. Setelah kami memakan dan membawa sisanya untuk tambah bekal, kami kembali melanjutkan penjalanan. Namun aneh, tiba-tibasaja cuaca yang semula cerah berubah menjadi berkabut.

Kami kesulitan melihat keadaan Sekeliling. Keadaan begitu gelap, nyaris tak ada cahaya walau sedikitpun. Begitu gelapnya, hingga jarak pandang hanya beberapa centimeter saja. Keadaan ini membuat kami memutuskan untuk berhenti dan berkemah menunggu kabut hilang.

Kami Ialu bermalam dengan berkemah di dalam hutan perawan itu. Namun, hingga malam berlalu ternyata cuaca semakin gelap saja. Bekal makanan yang kami punyai semakin menipis setelah tiga hari melakukan petualangan yang nyaris membuat gila itu.

Pagi itu, kami masih tertidur pulas di dalam tenda sederhana. Kamipun serentak bangun kami mendengar kokok ayam jantan seperti saling bersahutan. Aneh, pada pagi sebeIumnya kami tak pernah mendengar kokok ayam.Kami menduga datangnya suara kokokayarn itu dari perkampungan penduduk. Merasa telah menemukan jalan untuk keluar dari hutan, kami pun segera berkemas dan pergi meninggalkan lokasi perkemahan.

Tapi suatu keanehan terjadi lagi. Saat kami mencari keberadaan kampung yang kami perkirakan tak jauh dari tempat kami berkemah tadi, namun sepertinya kami semua hanya berputar-putar di sekitan ternpat itu saja.

Setelah merasa lelah dengan perjalanan yang sia-sia itu, kami berhenti dan menghabiskan beberapa jeruk yang merupakan bekal terakhir kami. Setelah jeruk-jeruk itu habis, tiba-tiba saja Ronald, salah seorang teman kami berteriak. Dia memberi tahu kalau dirinya melihat atap-atap ijuk yang merupakan atap dari rumah-rumah penduduk di kampung.

Cerita mistis nyata kisah tersesat ke kerajaan jin di gunung merapi


Kami semua bergegas menuju perkampungan itu dengan harapan kami dapat tertolong dari kelaparan karena semua perbekalan kami sudah habis. Tapi semuanya kebingungan dengan keadaan perkampungan yang tampak aneh. Bayangkan, tak ada seorang pun penduduk di kampung itu. Yang kami jumpai hanya rumah-rumah kosong tak benpenghuni.

Saat mengelilingi kampung itu, masih ada secercah harapan di hati kami akan menemukan adanya tanda-tanda kehidupan di sana. Harapan ini memang tidak sia-sia. Setelah hampir seharian kami mencari-cari, sekitar pukul 19 malam kami baru melihat seorang demi seorang penduduk kampung itu. Salah seorang warga kampung yang wujud fisiknya sama sepenti manusia itu menyebut kampung mereka dengan nama Kampung Jamle. Padahal, setahu kami tak ada nama kampung seperti itu di sekitar lereng Gunung Merapi.

Rasa penasanan membuat aku bertanya kepada seorang laki-laki tua yang mengaku pemuka masyarakat kampung itu.

“Benarkah kampung Bapak ini bernama Kampung Jamle?” tanyaku.

“Mengapa kamu meragukan pengakuan yang benar itu, Anak Muda?” jawabnya.

“Tapi setahu saya, tak ada kampung yang bernama Jamle di kaki Gunung Merapi ini, Pak!” jelasku.

Pak tua itu menatap kami berlima. “Kalian tak tahu Iebih banyak dari kami tentang kampung kami ini, Anak Manusia. Kampung Jamle ini bukan berada di negeri kalian, dan kalian tak akan mengetahui keberadaan kampung ini dalam sejarah yang dibuat manusia,” jelasnya.

Kami semua ternganga mendengar penjelasan itu. Karena penasaran, aku berkata, “Benarkah ada satu perkampungan di Indonesia ini yang tidak diketahui oleh pemerintah pusat maupun daerah?”

“Aku sudah mengatakan, kalau kampung ini bukan berada di negerimu dan kampung ini adalah aku yang menjadi Rajanya,” tegasnya, membuka jati dirinya yang sebenarnya.

Perkataan laki-laki tua berjenggot putih panjang itu, membuat bulu kuduk kami semua berdiri. Dia begitu yakin dengan pengakuannya. Tapi kami yang semuanya berwatak keras karena sering berurusan dengan segala tipu muslihat, mana mau percaya begitu saja. Dengan pengakuan yang tidak masuk akal itu.

“Kami semua telah Bapak tolong. Dan kami telah berhutang budi kepada Bapak. Tapi bukan berarti kami harus diam dan menerima segala kebohongan yang Bapak katakan kepada kami,” kata Ronlad, temanku yang terkenal paling pemberani.

“Tak ada yang mengharuskan kalian mempercayai perkataanku, tapi semua yang aku katakan adalah kebenaran. Kalian semua harus ingat itu!”

“Kalau memang Bapak Raja kerajaan ini, mengapa kami tak melihat tanda-tanda seorang raja ada pada diri Bapak?” tanyaku.

“Kalian semua datang kesini karena telah melakukan satu kesalahan. Jadi kalian. semua takan dapat melihat kenyataan yang ada, tapi mulai sekarang kalian akan kuperlihatkan dengan kenyataan yang sebenarnya. Pejamkanlah mata kalian sesaat dan Iihatlah aku dan negeriku yang sebenarnya” perintahnya.

Bagaikan orang yang terkena hipnotis, kami serentak melakukan perintah pria tua itu dan di saat itulah kami semua terperangah dengan perubahan yang sangat tidak masuk akal.

Pria tua yang berdiri di hadapan kami tadi, telah berganti dengan seorang pria muda yang berpakalan indah layaknya pakaian seorang raja agung. Rumah-rumah penduduk yang semula tampak beratapkan ijuk telah berganti dengan bangunan-bangunan megah dengan keindahan yang membuat kami semua berdecak kagum. Belum pernah kami menemukan bangunan semegah ini sebelumnya, di manapun juga.

‘’Bagaimana mungkin, semua ini dapat berubah, sihirkah semua ini?” tanyaku sambil menatap pak tua yang telah berubah menjadi seorarig Raja yang sangat gagah.

‘’Tak ada yang tidak mungkin atas kehendakNya. Semua tidak ada yang mustahil bagiNya. Semua ini adalah satu dari sekian banyak kebesaranNya,” jelas raja muda yang menyebut dirinya sebagai Rozakra itu.

“Siapa yang kamu maksud dengan NYA itu?” tanyaku.

“Aku tahu kalian berlima ini adalah pemeluk agama muslim, tapi sayang kalian semua melupakan Tuhan yang seharusnya merupakan kenikmatan yang diberikanNya kepada kalian semua. Tapi Allah telah berjanji  takkan pernah menghentikan kenikmatan sebelum janji itu sampai.”

Bagaikan seorang ustadz Raja Rozakra menceramahi kami berlima yang memang kelima-Iimanya beragama Islam. Seperti yang dikatakannya, kami memang memeluk agama Islam, tapi tak pernah lagi kami menjalankan kewajiban kami sebagai umat Muslim.

“Tadi Paduka Raja mengatakan kami semua telah melakukan kesalahan. Bolehkah kami tahu kesalahan apa yang telah kami lakukan itu? ‘ tanya Anwar, temanku yang lain.

“Kalian semua telah mencuri sesuatu yang tertanam di negeri kami ini. Tapi kalian masih bertanya apa kesalahan kalian. Tapi bagus, kalian mau bertanya yang mungkin dapat memperbaiki kesalahan itu,” tutur Raja Rozakia

“Tapi rasanya kami tak pernah mencuri apapun di negerimu ini?” ujar Ronald.

“Benarkah kalian semua tak pernah mengambil apapun yang menjadi milik kami?”

“Saya yakin betul, tak ada barang apa pun yang kami curi di negerimu ini,” jelasku.

“Tak pernah mengambil jeruk-jeruk yang kalian temukan di perjalanan yang menuju ke negeri kami ini?”

Aku dan temanku terperanjat dengan apa yang baru dikatakan Raja Rozakra. Sepertinya dia telah menyaksikan apa yang telah kami lakukan. Kami pun baru sadar dengan segala keanehan yang kami dapatkan setelah mengambil jeruk-jeruk itu.

“Sebenarnya kalau kalian semua hanya memakan, tanpa mengambil dan membawanya untuk perbekalan, kalian takkan menemukan segala keanehan yang kalian temui di negeriku ini,” jelas Raja Rozakra.

Sepertinya dia tahu kata hati kami, Raja Rozakra langsung menjawabnya. Kami semua semakin penasaran dengan Raja Rozakra, siapakah dia ini yang sebenarnya?

“Siapakah Anda ini yang sebenarnya?” tanyaku, memberanikan diri.

“Manusia sering menyebutku dengan jin, dan negeri ini adalah kerajaan jin Muslim yang aku perintah. Tapi ada sebagian dari manusia yang mengatakan negeriku ini dengan sebutan Negeri Hilang. Mereka yang mengatakannya begitu adalah mereka yang tidak mengetahui keberadaan kami,”

Pernyataan Raja Rozakra membuat kami semua terkejut bercampur takut. Ronald, Anwar, Osam, Ristantoda, dan Adrian, lima orang yang selama ini hidup ditengah-tengah kenyataan sangat sulit untuk mempercayai semua ini.

“Sekarang tak ada yang harus kalian takutkan. Mulai sekarang kalian berlima adalah tamuku. Selayaknya tamu, aku akan perlakukan kalian sebaik mungkin. Kalian semua akan aku ajak melihat negeriku yang jelas berbeda dengan negeri kalian manusia.”

Kata-kata Raja Rozakra barusan membuat kami semua lega. Rasa takut yang ada di hati kami brangsur-angsur hilang.

Sesuai dengan janjinya, Raja Rozakra membawa kami semua berkeliling negerinya. Akhirnya kami semua berangkat dengan kereta yang katanya digerakkan oleh udara. Kami tak dapat membayangkan kenyataan yang ada, antara jin dengan manusia.

Negeri Rozakra jauh majunya dengan kota-kota yang pernah kami lihat di dunia ini walau hanya Iewat layar televisi. Tak ada sebuah negeri di dunia ini yang sanggup menandingi kemajuan negeri jin itu. Manusia yang sekarang ini telah mengagung agungkan produk terbarunya di bidang komunikasi, ternyata tertinggal jauh dari mereka bangsa Jin yang sudah dapat berkomunikasi dengan hanya menciptakan satu alat untuk sekian banyak jumlah bangsanya.

Mereka hanya perlu mengingat tanda. Seperti nomor bagi kita yang menggunakan HP, dengan cuma mengingat dan menyebut secara lisan mereka dapat saling bicara walau dipisahkan jarak yang amat jauh. Kami mengetahui semua itu ketika Raja Rozakra memamerkan sistem itu kepada kami.

Bangunan-bangunan yang tampak sangat tertata dengan sempurna. Tampak jelas semua itu ditata oleh ahli di bidangnya. Tatanan istana tempat Raja melakukan aktifitasnya juga sangat fantastis.

Setelah kami diantar berkeliling di Kerajaan Jamle, kami disuruh tidur di ruangan yang kata Raja akan mengantar kami ke tempat semestinya kami semua berada.Kami semua tidak mengerti dengan maksud perkataan Raja Rozakra itu. Tapi karena kami semua saat itu merasa sudah keletihan, akhirnya kami mau saja tidur di ruangan yang kira-kira berukuran sepuluh persegi itu.

Ketika kami semua terbangun dan tidur, pagi 22 Agustus 2004, ternyata kami sudah berada di tepi ladang petani yang letaknya tidak jauh dari jalan raya. Lebih aneh lagi, kami yang semula tertidur di kamar yang ditawarkan Raja, kini telah berada di dua tenda kami yang ukurannya hampir sama dengan ukuran kamar itu.

Kami semua terbangun di saat yang sama. Apakah kami bermimpi telah bertemu dengan Raja Rozakra yang bijak itu? Tidak! Buktinya, kami semua merasa bersamaan telah bertemu dengan Raja Rozakra.

Kejadian Anah yang kami alami ini sempat menjadi buah bibir masyarakat sekitar kampung kami...Cerita ini anggap saja cerita fiktif...
Sekian cerita seram horor hantu terbaru Tersesat Di Pendakian Gunung Merapi Padang